<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Amor Mundi</title>
	<link>http://proyek.berteologi.net</link>
	<description>proyek penulisan buku (beta version)</description>
	<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 16:51:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>1. &#8220;Janganlah Kamu Mencintai Dunia …&#8221; Apa Benar?</title>
		<link>http://proyek.berteologi.net/2008/04/22/satujanganlah-kamu-mencintai-dunia-%e2%80%a6-apa-benar/</link>
		<comments>http://proyek.berteologi.net/2008/04/22/satujanganlah-kamu-mencintai-dunia-%e2%80%a6-apa-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 01:23:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Amor Mundi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://proyek.berteologi.net/2008/04/22/satujanganlah-kamu-mencintai-dunia-%e2%80%a6-apa-benar/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau benar amor mundi adalah konsekuensi logis dari amor Dei, mengapa bertebaran di dalam Kitab Suci nasihat bagi orang percaya untuk menjauhi bahkan "membenci" dunia? Salah satu teks yang paling banyak dikutip tentu saja Roma 12:2. Setelah Paulus menasihati jemaat di kota Roma untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Allah, "sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau benar <em>amor mundi </em>adalah konsekuensi logis dari <em>amor Dei</em>, mengapa bertebaran di dalam Kitab Suci nasihat bagi orang percaya untuk menjauhi bahkan "membenci" dunia? Salah satu teks yang paling banyak dikutip tentu saja Roma 12:2. Setelah Paulus menasihati jemaat di kota Roma untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Allah, "sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan pada Allah" (Rom. 12:1), ia melanjutkan dengan dampak yang harus muncul dari "ibadah yang sejati" tersebut.</p>
<blockquote><p>Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, kepada Allah dan yang sempurna. (Rom. 12:2)</p></blockquote>
<p>Teks ini mengisyaratkan perlunya sikap menolak dunia, sebagai akibat keputusan menerima Allah. Tak mungkin menerima keduanya. Sama seperti tak mungkin menolak keduanya. Kita harus memilih salah satu, sekaligus menolak yang lainnya. Akan tetapi, teks yang paling gamblang menggambarkan pertentangan antara amor Dei dan amor mundi adalah 1 Yohanes 2:15.</p>
<blockquote><p>Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan  Bapa tidak ada di dalam orang itu. (1Yoh. 2:15)</p></blockquote>
<p>Cul-de-sac? Jalan buntu? Tidak juga. Karena pokok persoalan yang sesungguhnya terletak pada kata "dunia" itu sendiri. Ayat di atas sama-sama berada dalam tradisi teologi Yohanes. Lalu, bagaimana mungkin kita dilarang "mencintai dunia," jika karena itu "kasih Bapa"-yang nota béné amat mengasihi dunia-tidak lagi ada di dalam kita? Sungguh tidak masuk akal bukan? Bahkan nyaris kontradiktif.</p>
<p>Persoalan ini sesungguhnya dengan mudah teratasi jika kita memahami secara persis bahwa kata "dunia" di dalam Yohanes 3:16 berbeda makna dengan kata yang sama di dalam 1 Yohanes 2:15. Di dalam Yohanes 3.16, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan "dunia" adalah seluruh ciptaan Allah, lengkap dengan seluruh manusia yang mendiaminya. Terhadap ciptaan-Nya, jelas cinta Allah amat besar!</p>
<p>Lantas, bagaimana dengan kata yang sama dalam 1 Yohanes 2.15? Sebenarnya si penulis segera memperjelas apa yang dia maksud dengan "dunia" di ayat berikutnya.</p>
<blockquote><p>Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1Yoh. 2.16)</p></blockquote>
<p>Nah, ini dia! Bukanlah dunia ciptaan Allah yang indah, lengkap dengan segala isinya itu, yang dikecam oleh penulis 1 Yohanes. Bukan, bukan itu. Sebab, terhadap dunia semacam itu tersebut cinta kita terarah, sebagai ekspresi dari cinta kita pada Allah. Sebaliknya, gaya hidup yang terpusat pada cinta dirilah (<em>amor sui</em>) yang tengah dikecam di sini. Singkatnya, "dunia" dalam teks ini berdimensi moral dan bukan dunia sebagaimana ia ada. Atau, anda boleh menyebutnya dimensi ontologis (dari kata Yunani, <em>ontos</em>, yang berarti "ada").</p>
<p>Terdapat tiga hal yang perlu dicermati di sini. Pertama, muncul tiga contoh dosa "duniawi" yang dipakai penulis: "keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup." Kita, lagi-lagi, harus berhati-hati untuk tidak mengartikan daging di sini secara negatif. Saya akan membahasnya secara terpisah belakang. Namun, cukuplah di sini untuk menekankan bahwa yang dimaksud di sini bukan sekedar keinginan fisik kita, seperti seks, makan, rekreasi, dan lain sebagainya. Semua itu pada dasarnya netral. Mereka bisa, dan haruslah, bersifat positif, namun pula bisa dipergunakan secara negatif. Kata "keinginan daging" atau "kedagingan" dalam Kitab Suci selalu merujuk pada seluruh hidup manusia yang terarah pada yang bukan Allah.</p>
<p>Kedua, ketiga contoh dosa tersebut kerap dalam literatur Kristen klasik muncul lewat apa yang disebut "tujuh kejahatan utama" (<em>seven vices</em>). Ketiganya menunjuk pada dua dari tujuh kejahatan: nafsu dan kecongkakan.</p>
<p>Ketiga, berhati-hatilah untuk menerapkan ayat ini pada sesama. Salah satu kekeliruan yang kerap kita lakukan adalah menaruh label "dunia" secara negatif pada dahi saudara-saudara kita yang berbeda iman dari kita. Padahal, kita dengan mudah dapat menjumpai di dalam agama-agama lain bagaimana kedua kejahatan moral tersebut juga dijauhi dan diperangi. Karena, jangan-jangan pelabelan semacam itu adalah tanda keangkuhan, yang justru dikecam penulis 1 Yohanes. Ironis bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://proyek.berteologi.net/2008/04/22/satujanganlah-kamu-mencintai-dunia-%e2%80%a6-apa-benar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PendahuluanAmor Mundi: Mencintai Dunia</title>
		<link>http://proyek.berteologi.net/2008/04/21/pendahuluan/</link>
		<comments>http://proyek.berteologi.net/2008/04/21/pendahuluan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 20:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Amor Mundi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://proyek.berteologi.net/2008/04/21/pendahuluan/</guid>
		<description><![CDATA["Karena begitu besar kasih Allah akan gereja, sehingga …" Tunggu! Ada yang salah di sini. Bukan karena Allah tidak mencintai gereja-Nya. Tentu saja gereja mendapat tempat istimewa di hati-Nya. Namun, Yesus memang dengan sengaja menunjukkan bahwa cinta Allah yang begitu besar itu diarahkan pertama-tama, serta utamanya, pada dunia ini, "Karena begitu besar kasih Allah akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>"Karena begitu besar kasih Allah akan <em>gereja</em>, sehingga …" Tunggu! Ada yang salah di sini. Bukan karena Allah tidak mencintai gereja-Nya. Tentu saja gereja mendapat tempat istimewa di hati-Nya. Namun, Yesus memang dengan sengaja menunjukkan bahwa cinta Allah yang begitu besar itu diarahkan pertama-tama, serta utamanya, pada dunia ini, "Karena begitu besar kasih Allah akan <em>dunia ini</em> …" (Yoh. 3:16). Dunia ini, bukan dunia yang lain. Dunia yang sama yang, setelah diciptakan-Nya dengan kata dan karya, lantas dipandang-Nya sungguh baik (Kej. 1:10, 12, 21, 25).</p>
<p>Ayat kesayangan banyak orang Kristen ini mengisyaratkan pula bahwa dunialah alasan utama karya penyelamatan Allah melalui Sang Anak. Itu sebabnya, Allah tidak akan mencintai gereja-Nya, melebihi cinta-Nya pada dunia. Sebaliknya, gereja ada karena Allah mencintai dunia begitu dalamnya. Dengan demikian, gereja ada senantiasa demi dunia yang dicintai Allah.</p>
<p>Karena itu, buku ini mulai dengan sebuah usulan, agar gereja Tuhan--di mana Anda dan saya menjadi bagian di dalamnya--mulai belajar menghapuskan sindrom "anak kesayangan." Kecuali sindrom ini dihapuskan, ayat indah di atas akan senantiasa kehilangan makna sesungguhnya.</p>
<p>Augustine dalam bukunya <em>Confessiones</em> mengajukan pertanyaan yang juga melatarbelakangi penulisan buku ini: "<em>Quid ergo amo, cum deum meum amo?" </em>Siapakah yang kucintai, ketika aku mencintai Allah? (Conf. 10.7.11). Agustinus lantas menghadirkan perenungannya tentang siapa Allah yang dicintainya. Buku ini mengambil jalur berbeda: Hidup yang mencintai Allah adalah hidup tanpa makna jika tak dihadirkan secara nyata lewat hidup penuh cinta apa yang dicintai Allah, yaitu dunia ini. Pun, sesama manusia, anggota keluarga dunia ini.</p>
<p>Buku di tangan Anda saat ini beranjak dari sebuah keyakinan bahwa, jika Allah memang mencintai dunia ini, maka kita yang dicintai dan mencintai Allah harus pula mencintai dunia ini. Mencintai Allah (<em>amor Dei</em>) sepenuhnya baru memperoleh makna sejatinya tatkala kita mencintai dunia (<em>amor mundi</em>) sepenuhnya pula. Sesederhana itulah tujuan buku ini. Akan tetapi, tentu saja, pesan yang sederhana ini menggulirkan banyak pertanyaan yang sama sekali tak sederhana. Sekali pesan tersebut diterima, akan muncul banyak konsekuensi yang tak terelakkan yang, saya yakin, bakal memaksa kita untuk merumuskan ulang beberapa pemahaman lama yang selama ini kita terima begitu saja.</p>
<p>Ungkapan <em>amor mundi </em>muncul dari Hannah Arendt, seorang filsuf politik perempuan asal Yahudi, sebagai protesnya atas tradisi filsafat yang selama ini selalu menganggap hina dunia dan hal-hal yang ada di dalamnya (<em>contemptus mundi</em>). Tidaklah berlebihan jika <em>amor mundi</em>, penghargaan pada dunia secara positif, muncul dari seorang Yahudi, yang mengakarkan pandangannya pada tradisi Yahudi yang memang amat positif memandang nilai dunia ciptaan Allah ini. Sebaliknya, sikap <em>contemptus mundi </em>secara umum berakar pada tradisi Yunani yang secara dualistis memisahkan yang rohani dari yang jasmani, yang ideal dari yang real, yang spiritual dari yang material.</p>
<p>Bukankah hal yang kurang lebih sama berlangsung pula dalam kekristenan? Teologi, kotbah, atau ajaran yang memberi janji surgawi sembari melupakan dunia ini laku keras. Sebaliknya, setiap ajakan untuk mengakarkan kehidupan di tengah dunia harus siap menerima penolakan dan kecaman. Atau, minimal tidak laku. Buku ini mengundang Anda untuk meriskir pilihan terakhir.</p>
<p>Di balik seluruh pertikaian konseptual ini, sesungguhnya, terdapat dua pandangan-dunia (<em>worldview</em>) yang bersaing: Yahudi dan Yunani. Persaingan ini sendiri sudah muncul sejak awal berdirinya gereja Tuhan. Sampai-sampai Tertulianus, seorang bapa gereja, menyuarakan pergumulan ini, "What indeed has Athens to do with Jerusalem?" (<em>The Prescription againts Heretics</em>, VII.) Apa kena-mengenanya Athena dengan Yerusalem?<br />
Jika pandangan-dunia Yahudi lebih menekankan kesatuan hidup manusia di tengah dunia material ciptaan Allah, pandangan-dunia Yunani amat menekankan realitas yang mendua, antara roh dan tubuh, surga dan dunia, yang ideal dan yang material. Tentu saja sebagian besar penulis Perjanjian Baru, yang hidup di dalam konteks masyarakat berbahasa Yunani, menghadirkan tulisannya dengan memanfaatkan pandangan-dunia Yunani ini. Namun, sesungguhnya, jika kita tekun menggali, dan terus menggali, apa yang akan kita dapati adalah sebuah penerusan tradisi (dan pandangan-dunia) Yahudi. Sayangnya, acap kali teologi dan iman Kristen lebih terpesona pada pembahasaan iman Kristen lewat kosakata Yunani tersebut, tinimbang berusaha keras menemukan akar-akar keyahudian di baliknya.</p>
<p>Apa yang ditawarkan lewat buku ini adalah sebuah penemuan kembali jejak spiritual yang mendunia, yang mengakui keindahan dunia ini, di tengah segala carut-marut pergumulan dunia dengan dosa. <em>Amor mundi</em>. Cintailah dunia, karena Allah, yang kaucintai dan yang mencintaimu, sungguh mencintai dunia ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://proyek.berteologi.net/2008/04/21/pendahuluan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
